Penyakit Pada Alat Indera

PENYAKIT PADA MATA

1. Ablasio

 Penyebab

Akibat adanya satu atau lebih robekan-robekan atau lubang-lubang di retina, dikenal sebagai ablasio retina regmatogen (Rhegmatogenous Retinal Detachment). Kadang-kadang proses penuaan yang normal pun dapat menyebabkan retina menjadi tipis dan kurang sehat, tetapi yang lebih sering mengakibatkan kerusakan dan robekan pada retina adalah menyusutnya korpus vitreum, bahan jernih seperti agar-agar yang mengisi bagian tengah bola mata.Korpus vitreum melekat erat pada beberapa lokasi. Bila korpus vitreum menyusut, ia dapat menarik sebagian retina ditempatnya melekat, sehingga menimbulkan robekan atau lubang pada retina.Beberapa jenis penyusutan korpus vitreum merupakan hal yang normal terjadi pada lanjut usia dan biasanya tidak menimbulkan kerusakan pada retina. Korpus vitreum dapat pula menyusut pada bola mata yang tumbuh menjadi besar sekali (kadang-kadang ini merupakan akibat dari rabun jauh), oleh peradangan, atau karena trauma. Pada sebagian besar kasus retina baru lepas setelah terjadi perubahan besar struktur korpus vitreum.Bila sudah ada robekan-robekan retina, cairan dari korpus vitreum dapat masuk ke lubang di retina dan dapat mengalir di antara lapisan sensoris retina dan epitel pigmen retina. Cairan ini akan mengisi celah potensial antara dua lapisan tersebut diatas sehingga mengakibatkan retina lepas. Bagian retina yang terlepas tidak akan berfungsi dengan baik dan di daerah itu timbul penglihatan kabur atau daerah buta. Bentuk ablasio retina yang lain yaitu ablasio retina traksi ( Traction Retinal Detachment ) dan ablasio retina eksudatif (Exudative Retinal Detachment) umumnya terjadi sekunder dari penyakit lain. Ablasio retina traksi disebabkan adanya jaringan parut (fibrosis) yang melekat pada retina. Kontraksi jaringan parut tersebut dapat menarik retina sehingga terjadi ablasio retina. Ablasio retina eksudatif dapat terjadi karena adanya kerusakan epitel pigmen retina (pada keadaan normal berfungsi sebagai outer barrier), karena peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah oleh berbagai sebab atau penimbunan cairan yang terjadi pada proses peradangan.

 Gejala

 Floaters (terlihatnya benda melayang-layang). yang terjadi karena adanya kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreus itu sendiri.

 Photopsia/Light flashes(kilatan cahaya). tanpa adanya sumber cahaya di sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap.

 Penurunan tajam penglihatan. penderita mengeluh penglihatannya sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan yang telah lanjut, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang berat.

 Akibat

Penurunan tajam pada penglihatan yang dapat menyebabkan kebutaan.

 Cara pencegahan

 Gunakan kaca mata pelindung untuk mencegah terjadinya trauma pada mata.

 Penderita diabetes sebaiknya mengontrol kadar gula darahnya secara seksama.

 Jika anda memiliki risiko menderita ablasio retina, periksakan mata minimal setahun sekali

 Cara pengobatan

 Operasi

Teknik operasinya bermacam macam, tergantung pada luasnya lapisan retina yang lepas dan kerusakan yang terjadi, tetapi semuanya dirancang untuk mendekatkan dinding mata ke lubang retina, menahan agar kedua jaringan itu tetap menempel sampai jaringan parut terbentuk dan melekatkan lagi robekan. Kadang-kadang cairan harus dikeluarkan dari bawah retina untuk memungkinkan retina menempel kembali ke dinding belakang mata. Seringkali sebuah pita silikon atau bantalan penekan diletakkan di dinding luar mata untuk dengan lembut menekan dinding belakang mata ke retina. Dalam operasi ini dilakukan pula tindakan untuk menciptakan jaringan parut yang akan merekatkan robekan retina, misalnya dengan pembekuan, dengan laser atau dengan panas diatermi (aliran listrik dimasukkan dengan sebuah jarum). Pada ablasio retina yang lebih rumit mungkin diperlukan teknik yang disebut vitrektomi. Dalam operasi ini korpus vitreum dan jaringan ikat di dalam retina yang mengkerut dikeluarkan dari mata. Pada beberapa kasus bila retina itu sendiri sangat berkerut dan menciut maka retina mungkin harus didorong ke dinding mata untuk sementara waktu dengan mengisi rongga yang tadinya berisi korpus vitreum dengan udara, gas atau minyak silikon. Lebih dari 90% lepasnya retina dapat direkatkan kembali dengan teknik-teknik bedah mata modern, meskipun kadang-kadang diperlukan lebih dan satu kali operasi.

 Prognosis

Bila retina berhasil direkatkan kembali mata akan mendapatkan kembali sebagian fungsi penglihatan dan kebutaan total dapat dicegah. Tetapi seberapa jauh penglihatan dapat dipulihkan dalam jangka enam bulan sesudah tindakan operasi tergantung pada sejumlah faktor. Pada umumnya fungsi penglihatan akan lebih sedikit pulih bila ablasio retina telah terjadi cukup lama atau muncul pertumbuhan jaringan di permukaan retina.

2. Glaucoma

 Penyebab

Saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati.

Faktor resiko:

 Riwayat glaukoma di dalam keluarga.

 Tekanan bola mata tinggi

 Miopia (rabun jauh)

 Diabetes (kencing manis)

 Hipertensi (tekanan darah tinggi)

 Migrain atau penyempitan pembuluh darah otak (sirkulasi buruk)

 Kecelakaan/operasi pada mata sebelumnya

 Menggunakan steroid (cortisone) dalam jangka waktu lama

 Lebih dari 45 tahun

 Gejala

Gejala yang dirasakan pertama kali antara lain : bila memandang lampu neon/sumber cahaya maka akan timbul warna pelangi di sekitar neon tersebut, mata terasa sakit karena posisi mata dalam keadaan membengkak, penglihatan yang tadinya kabur lama kelamaan akan kembali normal. Hal inilah yang membuat para penderita glaukoma tidak menyadari bahwa ia sudah menderita penyakit mata yang kronis. Penyakit mata glaukoma ini dapat diderita kedua mata dari si penderita dan jalan satu-satunya untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan operasi.

 Akibat

Jika dibiarkan lama kelamaan saraf mata akan mati dan menyebabkan kebutaan.

 Cara pencegahan

Dianjurkan untuk orang yang mempunyai kerabat/keluarga yang menderita galukoma untuk memeriksakan diri secara periodik setelah berumur 20 tahun ke dokter mata. Disana biasanya akan diuji dengan uji lapang pandang ataupun uji tonometrik. Deteksi dini ini merupakan pencegahan untuk menjadi lebih akut.

Tetes mata: cara ini merupakan yang paling umum dan sering dan harus dilakukan secara teratur. Sebagian pasien dapat mendapatkan respon yang bagus dari suatu obat sementara yang lainnya bisa tidak mendapatkan respon, namun pemilihan pengobatan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan tipe glaukomanya.

Laser (laser trabeculoplasty): ini dilakukan jika obat tetes mata tidak menghentikan kerusakan penglihatan. Pada kebanyakan kasus, meski telah dilakukan tindakan laser ini, obat tetes mata tetap harus diberikan. Tindakan laser ini tidak memerlukan pasien untuk dirawat di rumah sakit.

Pembedahan (trabeculectomy) : ini dilakukan jika tetes mata dan penanganan dengan laser gagal untuk dapat mengontrol tekanan bola mata. Sebuah saluran dibuat untuk memungkinkan cairan mata mengalir keluar. Tindakan ini dapat menyelamatkan sisa penglihatan yang ada tapi tidak memperbaiki pandangan

 Cara pengobatan

Glaukoma tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dicegah dan dikontrol seperti cara yang ada di atas.

3. Dakriosistis

 Penyebab

Adanya blokade pada saluran yang mengalirkan air mata dari kantong air mata ke hidung sehingga duktus (saluran) yang terhalang menjadi terinfeksi.

 Gejala

Mata berair dan kotoran mata berlebih.

 Akibat

Infeksi menyebabkan nyeri di daerah sekitar kantong air mata yang tampak merah dan membengkak. Mata menjadi merah dan berair serta mengeluarkan nanah.

Jika kantong air mata ditekan secara perlahan, akan keluar nanah dari lubang di sudut mata sebelah dalam (dekat hidung). Penderita juga mengalami demam. Jika infeksi yang ringan atau berulang berlangsung lama maka sebagian besar gejala mungkin menghilang hanya pembengkakan ringan yang menetap. Kadang infeksi menyebabkan tertahannya air mata di dalam kantong air mata sehingga terbentuk kantong yang berisi cairan (mukokel di bawah kulit. Infeksi berulang bisa menyebabkan penebalan dan kemerahan diatas kantong air mata.

Bisa terbentuk kantong nanah (abses) yang kemudian pecah dan mengeluarkan nanahnya.

 Cara pencegahan

Mencegah glaucoma adalah mendetesi sedini mungkin. Selain itu, mengurangi makanan berkolesterol bisa mencegah resiko terkena glaucoma.

 Cara pengobatan

 Dengan cara pemberian antibiotika oral atau melalui pembuluh darah.

 Bisa dilakukan pengompresan dengan air hangat di sekitar kantung air mata

 Jika terjadi kantung nanah maka harus dilakukan pembedahan.

4. Katarak

 Penyebab

Katarak berkembang karena berbagai sebab, seperti kontak dalam waktu lama dengan cahaya ultra violet, radiasi, efek sekunder dari penyakit seperti diabetes dan hipertensi, usia lanjut, atau trauma(dapat terjadi lebih awal), mereka biasanya akibat denaturasi dari lensa protein. faktor-faktor genetik sering menjadi penyebab katarak kongenital dan sejarah keluarga yang positif juga mungkin berperan dalam predisposisi seseorang untuk katarak pada usia lebih dini, fenomena “antisipasi” dalam katarak pra-senilis.

Katarak juga dapat diakibatkan oleh cedera pada mata atau trauma fisik. Sebuah studi menunjukan katarak berkembang diantara pilot-pilot pesawat komersial tiga kali lebih besar dari pada orang-orang dengan pekerjaan selain pilot. Hal ini diduga disebabkan oleh radiasi berlebihan yang berasal dari luar angkasa. Katarak juga biasanya sering terjadi pada orang yang terkena radiasi inframerah, seperti para tukang (meniup)kaca yang menderita “sindrom Pengelupasan”. Eksposur terhadap radiasi gelombang mikro juga dapat menyebabkan katarak. Kondisi atopik atau alergi yang juga dikenal untuk mempercepat perkembangan katarak, terutama pada anak-anak.

Katarak dapat terjadi hanya sebagian atau penuh seluruhnya, stasioner atau progresif, keras atau lembut.

Beberapa obat dapat menginduksi perkembangan katarak, seperti kortikosteron dan Seroquel.

 Gejala

Penderita katarak akan mengalami pengelihatan yang buram, ketajaman pengelihatan berkurang, sensitivitas kontras juga hilang, sehingga kontur, warna bayangan dan visi kurang jelas karena cahaya tersebar oleh katarak ke mata. Tes sensitivitas kontras harus dilakukan dan jika kekurangan sensitivitas kontras terlihat makan dianjurkan untuk konsultasi dengan spesialis mata.

Di dunia berkembang, khususnya di kelompok berisiko tinggi seperti penderita diabetes, disarankan untuk mencari konsultasi medis jika ‘halo’ yang terjadi disekitar lampu jalan di malam hari, terutama jika fenomena ini tampak hanya dengan satu mata.

Gejala-gejala katarak sangat mirip dengan gejala citrosis mata.

 Akibat

Lensa mata menjadi keruh dan cahaya tidak dapat menembusinya, bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total dan menghalangi jalan cahaya. dalam perkembangan katarak yang terkait dengan usia penderita dapat menyebabkan penguatan lensa, menyebabkan penderita menderita miopi, menguning secara bertahap dan keburaman lensa dapat mengurangi persepsi akan warna biru. Katarak biasanya berlangsung perlahan-lahan menyebabkan kehilangan penglihatan dan berpotensi membutakan jika tidak diobati. Kondisi ini biasanya mempengaruhi kedua mata, tapi hampir selalu satu mata dipengaruhi lebih awal dari yang lain.

Sebuah katarak senilis, yang terjadi pada usia lanjut, pertama kali akan terjadi keburaman dalam lensa, kemudian pembengkakan lensa dan penyusutan akhir dengan kehilangan transparasi seluruhnya. Selain itu, seiring waktu lapisan luar katarak akan mencair dan membentuk cairan putih susu, yang dapat menyebabkan peradangan berat jika pecah kapsul lensa dan terjadi kebocoran. bila tidak diobati, katarak dapat menyebabkan glaukoma.

 Cara pencegahan

Menjaga pola makan bergizi yang baik untuk proses metabolisme, seperti konsumsi buah dan sayuran serta menjaga agar tidak terjadi trauma atau kecelakaan pada mata.

 Cara pengobatan

Satu-satunya pengobatan untuk katarak adalah pembedahan. Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat melihat dengan baik dengan bantuan kaca mata untuk melakukan kegiatannya sehari-hari. Beberapa penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya dengan mengganti kaca matanya, menggunakan kaca mata bifokus yang lebih kuat atau menggunakan lensa pembesar. Jika katarak tidak mengganggu biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan.

Operasi katarak sering dilakukan dan biasanya aman. Setelah pembedahan jarang sekali terjadi infeksi atau perdarahan pada mata yang bisa menyebabkan gangguan penglihatan yang serius. Untuk mencegah infeksi, mengurangi peradangan dan mempercepat penyembuhan, selama beberapa minggu setelah pembedahan diberikan tetes mata atau salep.

Untuk melindungi mata dari cedera, penderita sebaiknya menggunakan kaca mata atau pelindung mata yang terbuat dari logam sampai luka pembedahan benar-benar sembuh.

5. Konjunsgtivitis

 Penyebab

Konjungtivitis Gonokokal

Bayi baru lahir bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi baru lahir mendapatkan tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri yang bisa menyebabkan konjungtivitis gonokokal.

Orang dewasa bisa mendapatkan konjungtivitis gonokokal melalui hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang satu mata.

Dalam waktu 12-48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik.

Konjungtivitis Vernalis

Konjungtivitis vernalis adalah salah satu bentuk dari konjungtivitis yang disebabkan oleh faktor alergi, disamping juga dipengaruhi oleh faktor, yakni; iklim, usia, dan jenis kelamin.penyakit ini biasanya mengenai pasien muda antara 3-25 tahun. Pada laki-laki biasanya dimulai pada usia dibawah 10 tahun. Pada umumnya penderita konjungtivitis vernalis mengeluh gatal, mata merah, dan mengeluarkan sekret atau kotoran. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih.

 Gejala

Mata terasa kasar menggatalkan, merah dan mungkin berair. Kelopak mata mungkin menempel sewaktu bangun tidur. Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih.

Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.

Gejala lainnya adalah: – mata berair – mata terasa nyeri – mata terasa gatal – pandangan kabur – peka terhadap cahaya – terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

 Akibat

Bila tidak diobati dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kebutaan.

 Cara pencegahan

 Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.

 Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit.

 Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.

 Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik pembuatnya.

 Cara pengobatan

Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Kelopak mata dibersihkan dengan air hangat. Jika penyebabnya bakteri, diberikan tetes mata atau salep yang mengandung antibiotik. Untuk konjungtivitis karena alergi, antihistamin per-oral (melalui mulut) bisa mengurangi gatal-gatal dan iritasi. Atau bisa juga diberikan tetes mata yang mengandung kortikosteroid. Untuk memperbaiki posisi kelopak mata atau membukan saluran air mata yang tersumbat, mungkin perlu dilakukan pembedahan.

6. Miopi

 Penyebab

Faktor yang menyebabkannya adalah keturunan, membaca sambil tiduran, menonton tv dari jarak dekat, dan berada di depan computer terus-menerus. Selain itu :

 Axis Bola mata yang terlalu panjang

 Lensa mata yang terlalu cembung

 Kelengkungan kornea yang terlalu besar

 Gejala

 Pusing ketika membaca

 Agak kabur ketika melihat jauh

 Sering memicingkan mata ketika melihat jauh

 Sering mengedipkan mata bila melihat dekat

 Akibat

Mata tidak bisa berakomodasi minimum.

 Cara Pencegahan

 Tidak membaca dalam keadaan kurang cahaya.

 Membaca dalam posisi duduk dan dalam jarak baca normal, yaitu 30 cm.

 Tidak sering berada di depan computer. Radiasi dapat mempengaruhi kondisi mata.

 Makan sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin A secara teratur dan tidak berlebihan.

 Cara Pengobatan

Memakai kacamata berkekuatan negative (lenca cekung), lensa kontak, dan LASIK.

7. Hipermetropi

 Penyebab

Penyebab hipermetropia adalah karena bentuk bola mata terlalu pendek dibanding keadaan normal, atau dapat juga sistem optis bola mata yang kekurangan daya bias. Berdasarkan kedua hal tersebut, struktur hipermetropia diklasifikasikan sebagaimana berikut:

 Hipermetropia aksial, yaitu hipermetropia yang disebabkan oleh sumbu axial bolamata yang terlalu pendek dari pada keadaan normal.

 Hipermetropia refraktif, yaitu hipermetropia yang terjadi karena indeks bias media refrakta yang terlalu rendah, sehingga menyebabkan sistem optis bolamata kekurangan daya bias.

 Hipermetropia kurvatur, yaitu hipermetropia yang diakibatkan oleh kelengkungan kornea atau lensa kristalin yang terlalu flat/rata, sehingga menyebabkan kekurangan daya bias pada sistem optis bolamata secara keseluruhan.

 Gejala

 Sakit kepala, terutama di sisi muka. Makin terasa jika melihat ke arah dekat dalam jangka waktu yang agak lama.

 Penglihatan tidak nyaman, terutama ketika pandangan terfokus ke jarak tertentu dalam waktu lama, misalnya menonton televisi.

 Kabur ketika melihat dekat, meskipun usianya masih cukup muda.

 Penglihatan jauh menjadi kabur sehabis membaca / melihat dekat dalam waktu lama.

 Kabur ketika melihat jauh dan dekat, terutama jika derajat hipermetropianya sudah agak tinggi (3,00 s/d 6,00 D).

 Cepat lelah mata ketika membaca dalam jarak dekat.

 Akibat

Mata tidak bisa berakomodasi maksimum.

 Cara Pencegahan

Makan sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin A dengan teratur dan tidak berlebihan.

 Cara Pengobatan

Pemberian lensa koreksi (kacamata atau lensa kontak) berkekuatan positif (lensa cembung) di depan sistem optis bola mata, atau bisa juga dengan tindakan operatif (Keratektomi & LASIK).

Pada hipermetropia fakultatif, pemberian lensa koreksi akan memberikan kenyamanan penglihatan, meskipun tanpa lensa koreksi ia masih memiliki ketajaman penglihatan yang normal.

Pada hipermetropia absolut, pemberian lensa koreksi (atau dengan tindakan operatif) adalah hal yang sudah sangat diperlukan.

8. Presbiopi

 Penyebab

Disebabkan oleh faktor usia. Orang yang usianya sudah lanjut, daya akomodasinya semakin lemah sehingga lensa mata sukar mencembung secembung-cembungnya dan sukar memipih sepipih-pipihnya.

 Gejala

Gejala pada miopi dan hipermetropi dirasakan pada penderita presbiopi.

 Akibat

Mata tidak bisa berakomodasi maksimum dan minimum.

 Cara Pencegahan

Karena disebabkan oleh faktor usia, presbiopi tidak bisa dicegah.

 Cara Pengobatan

Menggunakan kacamata dengan lensa rangkap.

9. Astigmatisme

 Penyebab

Bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir, biasanya berjalan bersama dengan myopia dan hipermetropia dan tidak banyak terjadi perubahan selama hidup. Astigmat merupakan akibat bentuk kornea yang oval seperti telur, makin lonjong bentuk kornea makin tinggi astigmat mata tesebut. Astigmat juga dapat terjadi akibat jaringan parut pada kornea atau setelah pembedahan mata. Jahitan yang terlalu kuat pada bedah mata dapat mengakibatkan perubahan pada permukaan kornea. Bila dilakukan pengencangan atau pengendoran jahitan pada kornea maka dapat terjadi astigmat akibat terjadi perubahan kelengkungan kornea.

 Gejala

 Penglihatan ganda pada satu atau kedua mata

 Melihat benda yang bulat menjadi lonjong

 Penglihatan kabur

 Bentukbenda berubah

 Sakit kepala

 Mata tegang dan pegal

 Mata dan fisik lemah

 Pada astigmat tinggi (4-8 D) yang selalu melihat kabur sering mengakibatkan ambliopia.

 Akibat

Mata tidak bisa melihat garis lurus dengan jelas dan tidak bisa membedakan ketebalan garis dengan benar.

 Cara Pencegahan

Menghindari pola membaca yang buruk.

 Cara Pengobatan

Astigmat ringan tidak perlu diberi kacamata. Pada astigmat yang berat dapat diberi kacamata silinder, lensa kontak atau pembedahan. Pada astigmat ireguler, dapat digunakan kontak lensa yang kaku, dimana air mata antara kontak lensa dan permukaan kornea dapat mengkompensasi permukaan kornea yang tidak regular.

10. Buta Warna

 Penyebab

Kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.

 Gejala

Sulit membedakan beberapa wana tertentu, tergantung pada jenis buta warnanya, seperti perincian di bawah ini.

 Akibat

1. Trikromasi

Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:

• Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah

• Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita

• Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.

2. Dikromasi

Yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan:

Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau perpaduannya kurang

• Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau

• Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.

3. Monokromasi

Monokromasi sebenarnya sering dianggap sebagai buta warna oleh orang umum. Kondisi ini ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.

 Cara Pencegahan

Dilakukan tes kromosum untuk mengetahui resiko anak mengalami buta warna atau tidak, apalagi jika ibu atau anggota keluarga lain mengalami buta warna.

 Cara Pengobatan

Biasanya, para penderita buta warna dapat diobati dengan terapi.

11. Kanker Mata

 Penyebab

Penyebab terjadinya kanker mata adalah tidak adanya gen yang bersifat menurunkan tumor. Pada umumnya, kanker mata diturunkan berdasarkan gen keturunan.

 Gejala

 Pupil berwarna putih.

 Mata juling (strabismus).

 Mata nyeri dan merah.

 Gangguan penglihatan.

 Iris pada kedua mata memiliki warna yang berlainan.

 Terjadi kebutaan.

 Akibat

Jaringan di sekitar mata mengalami kerusakan bahkan dapat menyebabkan kebutaan.

 Cara Pencegahan

Tes kromosum pra-nikah untuk mengurangi resiko anak mengalami kanker mata. Apalagi jika ada riwayat keluarga yang mengalami kanker mata.

 Cara Pengobatan

Pengangakatan bola mata dan dilanjutkan dengan kemoterapi.

PENYAKIT PADA KULIT

1. Kudis

 Penyebab

Disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabiei yang dicirikan dengan adanya keropeng, kebotakan, dan kegatalan pada kulit.

 Gejala

Liang pada permukaan kulit, gatal, dan kemerahan dan biasanya ada infeksi sekunder, misalnya akibat bakteri. Pada bayi, gejala yang khas yaitu adanya bisul pada telapak kaki dan telapak tangan

 Akibat

Penderita mengalami kegatalan dan kesakitan. Penderita jadi sering menggaruk kulitnya. Akibat infeksi terbentuk kerak kudis yang berwarna coklat keabuan yang berbau anyir.

 Cara Pencegahan

Tidak ada vaksin untuk kudis sehingga pencegahan harus dilakukan melalui menghindari infeksi. Seluruh pihak yang berada dekat dengan penderita perlu diobati pada waktu bersamaan, walaupun belum ada gejala. Pakaian, handuk, seprai dan barang-barang yang bersentuhan dengan kulit sebaiknya dicuci dan disetrika untuk mencegah penularan.

 Cara Pengobatan

Diobati dengan salep antikudis yang disebut salep 2-4. Setelah penderita mandi, salep dioleskan dan digosok agak keras agar salep masuk ke terowongan dan kontak dengan kutu. Setelah itu, penderita tak boleh mandi selama tiga hari agar obat tersebut tetap bertahan pada tempatnya.

2. Panu

 Penyebab

Keringat yang dibiarkan menempel pada kulit dalam waktu yang lama. Kotoran tersebut lama-kelamaan menjadi jamur yang menyebabkan panu muncul.

 Gejala

Bercak berwarna pada kulit dengan batas sangat tegas dibanding warna kulit di sekitarnya.

 Akibat

Jika dibiarkan, lama kelamaan bercaknya akan menyebar ke bagian kulit lainnya dan menyebabkan gatal. Jika digaruk, bercaknya menimbulkan serpihan berwarna putih.

 Cara Pencegahan

Menjaga higienitas perseorangan, hindari kelembaban kulit dan menghindari kontak langsung dengan penderita.

 Cara Pengobatan

Panu umumnya diobati dengan antijamur topikal. Pengobatan ini membasmi panu secara temporer. Untuk itu perlu diulangi secara rutin dan teratur untuk mencegah panu kambuh lagi.

3. Kadas

 Penyebab

Salah satu infeksi jamur dermatofitosis (dermatophytosis) pada permukaan kulit yang disebabkan oleh jamur dermatophyte.

Bentuk (klinis) infeksi jamur dermatofitosis pada permukaan kulit dibedakan berdasarkan tempatnya, diantaranya:

 Tinea Kapitis ( Tinea capitis ). Infeksi jamur yang terletak di kulit dan rambut kepala.

 Tinea Korporis ( Tinea corporis ). Terletak pada kulit wajah, badan, lengan dan bokong.

 Tinea Kruris. Di daerah pelipatan paha, organ genital dan daerah anus. apat menyebar ke bokong dan perut bagian bawah.

 Tinea Pedis. Terletak di kulit tangan dan kaki, sela jari, telapak tangan maupun kaki.

 Tinea Unguium. Infeksi jamur dermatofitosis di kuku.

 Tinea Imbrikata. Bercak bersisik dan melingkar serta terasa gatal.

 Gejala

 Tinea corporis ditandai dengan bercak berbagai bentuk. Terbanyak adalah bentuk annular (seperti cincin) dan iris (sirkuler). Masing-masing bercak dapat bergabung membantuk bercak yang lebih luas.

 Bercak berbatas tegas dengan bagian tepi relatif lebih aktif dan lebih jelas dibanding bagian tengah.

 Pada fase akut terasa gatal, terutama jika berkeringat dan cuaca panas.

 Pada Tinea corporis menahun lebih sering diabaikan lantaran tidak menimbulkan keluhan selain keluhan kosmetik.

 Akibat

Munculnya bercak pada kulit dan menyebabkan gatal.

 Cara Pencegahan

 Menggunakan pakaian longgar dan sedapat mungkin terbuat dari bahan katun.

 Menggunakan kaos kaki dari bahan katun dan menghindari memakai kaos kaki yang lembab.

 Mengganti pakaian setiap hari dengan pakaian kering.

 Menggunakan sepatu yang tidak lembab.

 Mengeringkan handuk setelah setiap kali digunakan.

 Menghindari memakai pakaian orang lain yang sedang menderita infeksi jamur kulit.

 Mandi dengan air bersih segera setelah mandi di tempat-tempat umum.

 Jika perlu, menaburkan bedak atau bedak anti jamur terutama di sela-sela jari kaki dan pelipatan kulit.

 Cara Pengobatan

Prinsip pengobatan ditujukan kepada pemberantasan jamur dan mengurangi keluhan penyerta (simptomatis) serta mencegah reinfeksi selama maupun setelah pengobatan.

4. Albino

 Penyebab

Albino adalah kelainan genetik, bukan penyakit infeksi.

 Gejala

Kulit dan rambut berwarna putih/tidak memiliki warna.

 Akibat

Kulit dan rambut tidak memiliki pigmen.

 Cara Pencegahan

Dilakukan tes kromosum pra-nikah untuk mengurangi resiko anak mengalami albino. Apalagi jika ada riwayat keluarga yang mengalami albino.

 Cara Pengobatan

Albino tidak dapat diobati.

5. Kanker Kulit

 Penyebab

 Berhubungan dengan sinar matahari dalam waktu yang lama.

 Orang-orang dengan kandungan sedikit melamin pada kulit misalnya orang-orang dengan warna kulit cerah.

 Berhubungan langsung dengan zat-zat karsinogenik (seperti batu bara, pestisida, minyak paraffin) dan dapat juga akibat berhubungan dengan sisa-sisa radioaktif dan radium.

 Sering mengalami luka bakar berulang, seperti , tukang las, tukang minyak dan lain-lain.

 Gejala

 Tahi lalat yang asimetris

Tahi lalat harus memiliki bentuk yang teratur. Setiap perubahan yang menimbulkan perubahan pada ukuran dan bentuk tahi lalat harus menjadi perhatian. Periksakan perubahan tersebut ke dokter kulit.

 Tepi tahi lalat

Bagian tepi tahi lalat harus berbentuk halus dan tidak berubah selama bertahun-tahun. Luka, bengkak, atau tepian yang membesar adalah pertanda Anda perlu memperhatikan kesehatan kulit.

 Warna tahi lalat

Warna tahi lalat harus tetap dan tidak berubah. Orang dengan rambut berwarna cerah seharusnya memiliki warna tahi lalat yang lebih cerah, dan tahi lalat warna lebih gelap bagi yang berkulit gelap. Perubahan warna tahi lalat kemerah-merahan sebaiknya menjadi perhatian.

 Ukuran

Semakin besar diameter tahi lalat, semakin tinggi risiko terkena kanker kulit. Apalagi jika ada tahi lalat yang tumbuh di atas enam milimeter. Perubahan demikian adalah peringatan serius.

 Tahi lalat baru

Jika tubuh Anda terlalu sering terdapat tahi lalat baru, saatnya segera berkonsultasi dengan dokter.

 Gatal-gatal

Tahi lalat yang terasa gatal adalah pertanda buruk. Selain gatal, tahi lalat yang membesar, bersisik atau berdarah bisa menjadi gejala-gejala terjadinya kanker kulit. Periksakan ke dokter kulit segera.

 Risiko bawaan

Orang dengan kulit sangat pucat lebih berisiko terkena kanker kulit dibandingkan orang dengan kulit berwarna. Waspadai bila ada anggota keluarga yang terkena karsinoma, karena risiko terkena kanker kulit lebih besar.

 Akibat

Pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain.

 Cara Pencegahan

 Pemeriksaan kulit secara sederhana untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda kanker kulit dapat dilakukan sendiri dengan melakukan SSE (skin self examination) terutama pada setiap kulit, tahi lalat jaringan parut atau bercak-bercak sejak lahir. SSE disarankan dilakukan setiap bulan pada waktu yang sama misalnya setiap tanggal satu setelah mandi sore. Bagi para wanita SSE dapat dlakukan bersamaan waktunya dengan BSE ( breast self examination) pemeriksaan payudara sendiri atau sadari.

 Selain tanda-tanda seperti pada SSE yang diamati, perlu juga mengamati tanda perubahan tradisional seperti tumbuhnya kulit baru yang tidak wajar, luka yang tidak sembuh-sembuh atau adanya bagian kulit tertentu yang sering mengalami iritasi. Bila terdapat berbagai kondisi seperti disebutkan di atas maka disarankan secepatnya memeriksakan diri pada dokter. Ada dan tidaknya kanker dapat dipastikan dengan biopsy, untuk itu bila mencurigai adanya kanker kulit . langkah pertama. Melakukan pemeriksaan diri secara cepat dapat mencegah timbulnya penyakit ini.

 Tidak berlama-lama berada di bawah sinar matahari.

 Cara Pengobatan

Seperti kanker pada umumnya, kanker kulit bisa diobati dengan operasi pengangkatan sel-sel kanker dan dilanjutkan dengan kemoterapi.

PENYAKIT PADA HIDUNG

1. Anosmia, Disosmia, Hiposmia, Hipernosmia

 Penyebab

Disebabkan oleh gangguan saluran hidung, cedera kepala dan tumor sulkus olfaktorius (misalnya meningioma, glioma frontal).

 Gejala

Kehilangan penciuman yang bersifat sementara atau permanen. Hiposmia hanya kehilangan sensitivitas pada bau. Disosmia hanya tidak mampu mendeteksi bau tertentu. Tidak seperti anosmia yang tidak bisa mencium bau sama sekali. Hipernosmia, penciuman yang berlebihan. Yang terakhir paling jarang terjadi.

 Akibat

Hilang atau berkurangnya indra penciuman dapat menyebabkan penderita kehilangan minat makan, menyebabkan penurunan berat badan, gizi buruk atau bahkan depresi.

 Cara Pencegahan

-

 Cara Pengobatan

Kehilangan penciuman dapat disembuhkan, tergantung dari penyebabnya. Dokter biasanya memberi antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri, atau menghapus penghalang yang menghalangi saluran hidung. Namun jika kehilangan penciuman itu karena faktor usia, umumnya sulit untuk disembuhkan.

2. Tumor Hidung

 Penyebab

JNA (Juvenile nasopharyngeal angiofibroma) berasal dari sex steroid-stimulated hamartomatous tissue yang terletak di turbinate cartilage. Pengaruh hormonal yang dikemukakan ini dapat menjelaskan mengapa beberapa JNA jarang terjadi (ber-involute) setelah masa remaja (puberty).

 Gejala

 Obstruksi nasal (80-90%) dan ingus (rhinorrhea). Ini merupakan gejala yang paling sering, terutama pada permulaan penyakit.

 Sering mimisen (epistaxis) atau keluar cairan dari hidung yang berwarna darah (blood-tinged nasal discharge). Mimisen, yang berkisar 45-60% ini, biasanya satu sisi (unilateral) dan berulang (recurrent).

 Sakit kepala (25%), khususnya jika sinus paranasal terhalang.

 Pembengkakan di wajah (facial swelling), kejadiannya sekitar 10-18%.

 Tuli konduktif (conductive hearing loss) dari obstruksi tuba eustachius.

 Melihat dobel (diplopia), yang terjadi sekunder terhadap erosi menuju ke rongga kranial dan tekanan pada kiasma optik.

 Gejala lainnya yang bisa juga terjadi misalnya: keluar ingus satu sisi (unilateral rhinorrhea), tidak dapat membau (anosmia), berkurangnya sensitivitas terhadap bau (hyposmia), recurrent otitis media, nyeri mata (eye pain), tuli (deafness), nyeri telinga (otalgia), pembengkakan langit-langit mulut (swelling of the palate), kelainan bentuk pipi (deformity of the cheek), dan rhinolalia.

 Akibat

Penderita akan sering mengalami mimisan. Pada stadium tertentu, penderita bisa mengalami kerusakan tulang hidung dan saluran hidung.

 Cara Pencegahan

Makan makanan yang bergizi seimbang untuk mencegah turunnya daya tahan tubuh.

 Cara Pengobatan

A. Terapi Medis

 Terapi hormonal dan kemoterapi

Flutamide hormonal, suatu nonsteroidal androgen blocker atau testosterone receptor blocker, efektif untuk mengurangi ukuran tumor pada stadium I dan II hingga 44%.

Terapi hormonal dengan diethylstilbestrol (5 mg PO tid untuk 6 minggu) sebelum eksisi dapat mengurangi vascularity JNA namun terkait dengan efek samping memiliki sifat kewanitaan (feminizing side effects).

Doxorubicin dan dacarbazine disiapkan jika JNA berulang atau kambuh.

Schuon, et.al. (2006) melaporkan analisis immunohistochemical dari mekanisme pertumbuhan JNA. Mereka berkesimpulan bahwa pertumbuhan dan vaskularisasi JNA dikendalikan oleh faktor-faktor yang dibebaskan dari stromal fibroblasts. Oleh karena itu, dihambatnya faktor-faktor ini dapat bermanfaat untuk terapi JNA yang tidak dapat dioperasi (inoperable).

 Radioterapi

Beberapa center telah melaporkan rata-rata kesembuhan 80% dengan terapi radiasi.

Radioterapi stereotactic (yakni: pisau Gamma) mengirimkan dosis radiasi yang lebih rendah ke jaringan di sekitarnya. Para ahli telah menyediakan radioterapi untuk penyakit intrakranial atau kasus yang berulang.

Radioterapi three-dimensional conformal untuk JNA yang luas (extensive) atau penyebaran hingga intrakranial memberikan suatu alternatif yang baik untuk radioterapi konvensional berkaitan dengan pengendalian penyakit dan morbiditas akibat radiasi (radiation morbidity).

External beam irradiation, paling sering digunakan untuk penyakit intrakranial yang tidak dapat dibedah (unresectable), atau kambuhan (recurrent). Digunakan dosis yang bervariasi dari 30-46 Gy. Sisa tumor seringkali muncul dua tahun setelah terapi. Perhatian utama termasuk kulit sekunder, tulang, jaringan lunak, keganasan tiroid, dan hambatan perkembangan tulang wajah.

B. Terapi Pembedahan

Beberapa pendekatan yang digunakan tergantung dari lokasi dan perluasan JNA.

 Rute rinotomi lateral, transpalatal, transmaksila, atau sphenoethmoidal digunakan untuk tumor-tumor yang kecil (Klasifikasi Fisch stadium I atau II).

 Pendekatan fossa infratemporal digunakan ketika tumor telah meluas ke lateral.

 Pendekatan midfacial degloving, dengan atau tanpa osteotomi LeFort, memperbaiki akses posterior terhadap tumor.

 Pendekatan translokasi wajah dikombinasikan dengan insisi Weber-Ferguson dan perluasan koronal untuk kraniotomi frontotemporal dengan midface osteotomies untuk jalan masuk.

 Pendekatan extended anterior subcranial memudahkan pemotongan tumor sekaligus (en bloc), dekompresi saraf mata, dan pembukaan sinus kavernosus.

 Intranasal endoscopic surgery dipersiapkan untuk tumor yang terbatas pada rongga hidung dan sinus paranasal.

3. Salesma dan Influenza

 Penyebab

Salesma dan influenza disebabkan oleh virus.

 Gejala

Gejala yang mengiringi diantaranya mencret ringan, terutama pada anak kecil.

 Akibat

Batuk, pilek, sakit leher dan kadang-kadang panas atau sakit pada persendian. Banyak lendir dalam hidung menyebabkan infeksi telinga pada anak-anak atau gangguan sinus (peradangan gawat dan berlangsung lama pada rongga tulang yang berhubungan dengan rongga hidung) pada orang dewasa.

 Cara Pencegahan

 Nutrisi makanan yang bermutu akan membantu pencegahan penyakit salesma. Mengonsumsi jeruk, tomat dan buah-buahan lain yang mengandung vitamin C sangat dianjurkan.

 Bertentangan dengan kepercayaan umum, salesma bukan terjadi karena kedinginan atau kehujanan. Salesma ditularkan oleh seseorang yang telah menderita infeksi melalui vektor udara.

 Untuk mencegah penularan kepada orang lain, maka penderita harus makan dan tidur terpisah dari anggota keluarga lain terutama menjauhi bayi. Ia harus menutup hidung atau mulutnya ketika batuk atau bersin.

 Untuk mencegah agar salesma tidak menimbulkan sakit telinga, jangan menghembus ingus kuat-kuat, hapus saja ingus anda. Ajarkan anak-anak agar melakukan hal yang sama.

 Penderita yang sering mengalami sakit telinga atau gangguan sinus dapat mencegahnya dengan memakai tetes hidung decongestan seperti phenyleprine. Setelah menghirup sedikit air garam, teteskan obat tersebut dalam hidung sebagai berikut:

Miringkan kepala, kemudian teteskan 2 atau 3 tetes ke dalam lubang hidung sebelah bawah. Tunggu beberapa menit dan lakukan hal yang sama pada lubang lainnya.

 Cara Pengobatan

 Minum air panas dan cukup istirahat.

 Aspirin atau acetaminophen dapat menurunkan panas dan menghilangkan sakit kepala. Tablet-tablet salesma yang lebih mahal tidak lebih manjur daripada aspirin.

 Tetaplah makan seperti biasa, karena tidak ada pantangan mengonsumsi sesuatu.

Cara mengobati batuk dan hidung tersumbat:

Jika salesma atau influenza berlangsung lebih dari satu minggu, atau telah timbul panas, batuk ditambah dengan keluarnya banyak lendir beserta nanah (dahak), bernapas dalam kondisi cepat dan dangkal, atau mengalami sakit dada, maka terdapat kemungkinan si penderita mengalami radang cabang tenggorokan (bronchitis) atau radang paru-paru (pneumonia). Dalam keadaan ini diperlukan antibiotika. Bahaya terjadinya radang paru-paru lebih besar pada orang-orang berusia lanjut dan yang menderita gangguan paru-paru seperti bronchitis menahun.

Sakit tenggorokan atau sakit leher sering kali merupakan bagian dari salesma. Tidak diperlukan obat khusus, tetapi kumur dengan air hangat akan membantu proses penyembuhan. Jika sakit leher terjadi secara mendadak, disertai panas tinggi, kemungkinannya adalah strep throat (sakit leher karena infeksi streptoccus). Dalam keadaan ini diperlukan pengobatan khusus.

Untuk melegakan hidung yanng tersumbat, dapat dilakukan tindakan sebagai berikut:

 Pada anak-anak kecil, hisaplah dengan hati-hati ingus atau lendir dari hidung dengan menggunakan balon penghisap atau sempritan tanpa jarum suntik.

 Orang dewasa dan anak-anak remaja dapat menghirup air garam kedalam hidungnya. Tindakkan ini akan mencairkan lendir.

 Bernapas dalam uap air panas akan melegakan hidung yang tersumbat.

 Hapuslah ingus Anda, tetapi jangan menghembuskan ingus kuat-kuat, karena tindakan ini dapat menimbulkan sakit telinga dan infeksi sinus.

4. Sinus

 Penyebab

Bisa disebabkan oleh virus, bakteri, maupun alergi.

 Gejala

 Sakit pada muka di sekitar mata. Pada daerah ini jika Anda mengetuk tulang atau menundukkan kepala, muka akan terasa sakit.

 Hidung sering kali tersumbat oleh adanya nanan atau ingus yang kental.

 Kadang-kadang diikuti oleh panas.

 Akibat

Peradangan sinus, yaitu rongga-rongga dalam tulang yang berhubungan dengan rongga hidung, yang gawat dan biasanya terjadi dalam waktu menahun (kronis).

 Cara Pencegahan

Carilah penyebab terjadinya alergi, seperti debu; bulu ayam; tepung sari bunga; jamur, dan usahakan untuk menghindari benda-benda tersebut.

 Cara Pengobatan

 Hirup sedikit air garam ke dalam hidung

 Gunakan antihistamin seperti chlorpheniramine, dimenhydrinate, yang biasanya dijual untuk mengobati mabuk perjalanan.

 Letakkan kompres hangat di bagian wajah.

 Gunakan tetes hidung decongestan seperti phenyleprine

 Antibiotika seperti tetracyclin, ampicilin, atau penicillin, bisa digunakan untuk meredakan sinus.

 Jika si penderita kondisinya tidak membaik, segera minta pertolongan dokter.

 Operasi

PENYAKIT PADA LIDAH

1. Ageusia, Hiperguesia, Disguesia

 Penyebab

 Mulut yang sangat kering

 Perokok berat

 Terapi penyinaran pada kepala dan leher

 Efek samping dari obat (misalnya vinkristin-obat antikanker atau amitriptilin-obat antidepresi).

 Luka bakar pada lidah (bisa menyebabkan kerusakan sementara pada jonjot-jonjot pengecap)

 Bell’s palsy (bisa menyebabkan berkurangnya pengecapan pada salah satu sisi lidah)

 Depresi.

 Penyakit sistemik seperti diabetes melitus, refluks gastroesofageal, penyakit ginjal, multipel sklerosis, zoster otikus, dan Sick Building Syndrome

 Obat-obatan seperti :

• antibiotik (tetrasiklin, kloramfenikol, trimetroprim)

• antidiare (loperamid)

• antihipertensi (ACE inhibitor)

• antirematik (asam asetilsalisilat)

• antihistamin (piperidine)

• dan masih banyak lagi

 Intoksikasi atau keracunan oleh karbonmonoksida, alopurinol

 Perubahan fisiologis karena perubahan hormonal dan proses penuaan

 Gangguan penciuman karena infeksi sinus, infeksi di mulut

 Defisiensi / kekurangan vitamin B, vitamin A, dan zinc

Tidak diketahui penyebabnya

 Gejala

Aguesia, tidak mampu mengecap rasa sama sekali. Hipogeusia, kehilangan sensitivitas pengecap. Disguesia, tidak dapat mengecap rasa tertentu.

 Akibat

Kehilangan pengecapan dapat menimbulkan hilangnya nafsu makan.

 Cara Pencegahan

 Kurangi merokok.

 Tidak meminum obat-obatan yang keras terlalu banyak kecuali memang diperlukan.

 Cara Pengobatan

 Sering makan permen untuk menjaga kelembaban mulut

 Memperbaiki kebersihan rongga mulut

 Apabila Anda sedang mengalami infeksi saluran pernapasan, tunggu sampai beberapa hari setelah penyakit tersebut menghilang

 Konsumsi vitamin A (ubi kuning, wortel, sayuran dan buah kuning), vitamin B (gandum, daging, susu, kacang hijau, ragi, beras, telur), dan mineral zinc (kacang, gandum, sayur-sayuran hijau seperti bayam dan asparagus, daging, unggas, tiram)

2. Candidiasis Oral

 Penyebab

Infeksi jamur ragi dari genus Candida pada membran berlendir mulut. Hal ini sering disebabkan oleh Candida albicans, atau kadang oleh Candida glabrata dan Candida tropicalis. sariwan pada mulut bayi disebut candidiasis, sementara jika terjadi di mulut atau tenggorokan orang dewasa diistilahkan candidosis atau moniliasis.

 Gejala

Menimbulkan kumpulan lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mucosal (dinding mulut dalam). Pada mucosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang (berwarna merah). Orang dewasa mungkin mengalami rasa tidak nyaman atau rasa terbakar.

 Akibat

Lidah menjadi susah digunakan karena rasa tidak nyaman yang luar biasa.

 Cara Pencegahan

Mengurangi penggunaan antibiotic.

 Cara Pengobatan

Jangan coba beli obat sendiri tanpa resep dokter karena bisa membuat kuman resisten (kebal) terhadap obat.

3. Fissured Geografic Tongue

 Penyebab

Kebanyakan disebabkan karena faktor keturunan. Tetapi bisa juga karena alergi makanan atau diperberat saat terjadi infeksi demam, batuk atau pilek. Penyakit ini biasa diderita anak di atas 2 tahun.

 Gejala

 SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.

 KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).

 PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.

 OTOT DAN TULANG : nyeri kaki, kadang nyeri dada terutama saat malam hari

 SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)

 MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.

 HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.

 Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.

 FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

 Akibat

Lidah pecah-pecah dan terlihat terbelah-belah. Nafsu makan akan menurun karena susah menelan.

 Cara Pencegahan

Setiap sehabis makan, sikatlah lidah 10-15x dengan sikat bulu sedang gerakan pelan tidak boleh melukai lidah, dibantu dentifris (semacam abu gosok yang dipakai untuk membersihkan gigi).

 Cara Pengobatan

Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik atau terapi radiasi.

4. Kanker Lidah

 Penyebab

Merokok, terutama yg lebih dari 2 pack perhari, resiko tersebut akan meningkat dengan penggunaan alcohol 6-12 oz sehari. Squamous cell carcinoma pada lidah dapat juga disebabkan syphilis atau trauma khronis misalnya tambalan atau gigi yang tajam yg menimbulkan trauma pada lidah.

 Gejala

Biasanya terdapat luka (ulkus) seperti sariawan yang tidak sembuh dengan pengobatan yang adekuat, mudah berdarah, nyeri lokal, nyeri yang menjalar ke telinga, nyeri menelan, sulit menelan, pergerakan lidah menjadi semakin terbatas

 Akibat

Lidah terasa seperti terbelah dan munculnya eritroplakia (bercak kemerahan dalam mulut) pada lidah.

 Cara Pencegahan

 Berhenti merokok terutama pada perokok yang merokok cigarette, cerutu dan merokok dengan mengunakan pipa. Merokok adalah faktor resiko kanker yang terbesar. Semua jenis tembakau membuat Anda berisiko kanker. Mencegah tembakau atau memutuskan untuk berhenti menggunakannya merupakan keputusan kesehatan yang sangat penting. Hal ini merupakan bagian dari mencegah kanker.

 Hindari minuman beralkohol.

 Pemeriksaan rutin 6 bulan sekali ke dokter gigi.

 Salah satu hal yang wajib dilakukan dan sangat penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan memeriksakan dan membersihkan gigi secara teratur. Hal itu bisa mencegah karang gigi, gusi sakit, gigi berlubang,kanker mulut, dan penyakit gigi lainnya. Jangan tunggu sampai Anda punya masalah, lalu baru pergi ke dokter gigi. Sebaiknya cegah sebelum terjadi.

 Menjaga kebersihan mulut dan gigi. Apabila mulut dan gigi tidak terjaga kebersihannya, maka membuat kuman yang berjangkit lama-lama menjadi jamur dan akhirnya berkembang menjadi kanker. Selain menyikat gigi disarankan untuk menggunakan obat kumur yang menuntaskan kegiatan membersihkan mulut.

 Cara Pengobatan

Pemberian kombinasi radiasi eksternal dan brakhiterapi interstitial untung mematikan sel-sel kanker.

PENYAKIT PADA TELINGA

1. Tuli Konduktif

 Penyebab

Penurunan fungsi pendengaran sensorineural dikelompokkan lagi menjadi:

 Penurunan fungsi pendengaran sensorik (jika kelainannya terletak pada telinga dalam)

 Penurunan fungsi pendengaran neural (jika kelainannya terletak pada saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak)

Penurunan fungsi pendengaran sensorik bisa merupakan penyakit keturunan, tetapi mungkin juga disebabkan oleh:

 Trauma akustik (suara yang sangat keras)

 Infeksi virus pada telinga dalam

 Obat-obatan tertentu

 Penyakit Meniere

Penurunan fungsi pendengaran neural bisa disebabkan oleh :

 Tumor otak yang juga menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf di sekitarnya dan batang otak

 Infeksi

 Berbagai penyakit otak dan saraf (misalnya stroke) – Beberapa penyakit keturunan (misalnya penyakit Refsum)

Pada anak-anak, kerusakan saraf pendengaran bisa terjadi akibat :

 Gondongan

 Campak Jerman (rubella)

 Meningitis

 Infeksi telinga dalam

 Gejala

Penderita penurunan fungsi pendengaran bisa mengalami beberapa atau seluruh gejala berikut :

 Kesulitan dalam mendengarkan percakapan, terutama jika di sekelilingnya berisik

 Terdengar gemuruh atau suara berdenging di telinga (tinnitus)

 Tidak dapat mendengarkan suara televisi atau radio dengan volume yang normal

 Kelelahan dan iritasi karena penderita berusaha keras untuk bisa mendengar

 Pusing atau gangguan keseimbangan

 Akibat

Penderita dapat mengalami kerusakan saraf yang menyebabkan tuli semantara bahkan tuli permanen.

 Cara Pencegahan

 Membersihkan telinga secara teratur.

 Cara Pengobatan

Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya.

Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut.

Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan pencangkokan koklea.

2. Vertigo

 Penyebab

 Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring, bangun, berguling di atas tempat tidur atau menoleh ke belakang)

 Adanya endapan kalsium di dalam salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam.

 Pasokan oksigen ke otak yang kurang dapat pula menjadi penyebab.

 Gejala

Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita merasakan seolah-olah benda di sekitarnya bergerak atau berputar.

Sebelum memulai pengobatan, harus ditentukan sifat dan penyebab dari vertigo.

 Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya kelainan fungsi di telinga bagian dalam atau saraf yang menghubungkannya dengan otak. Nistagmus adalah gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam teling.

 Untuk menguji keseimbangan, penderita diminta berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup.

 Tes pendengaran seringkali bisa menentukan adanya kelainan telinga yang mempengaruhi keseimbangan dan pendengaran.

 Pemeriksaan lainnya adalah CT scan atau MRI kepala, yang bisa menunjukkan kelainan tulang atau tumor yang menekan saraf.

 Jika diduga suatu infeksi, bisa diambil contoh cairan dari telinga atau sinus atau dari tulang belakang.

 Akibat

Pada vertigo ringan, penderita hanya akan merasa pusing dan keadaan sekitar terasa berputar-putar. Namun, ada beberapa dokter yang mengatakan bahwa vertigo bias menjadi awal penyakit stroke.

 Cara Pencegahan

CT scan atau MRI kepala, agar vertigo bisa diketahui lebih awal sebelum menjadi parah.

 Cara Pengobatan

Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Obat untuk mengurangi vertigo yang ringan adalah meklizin, dimenhidrinat, perfenazin dan skopolamin.

3. Otitis Media

 Penyebab

Peradangan dan penumpukan cairan didalam telinga tengah. Jika ada cukup bakteri berkembang diarea ini, cairan dapat menjadi terinfeksi.

 Gejala

 Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga).

Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar.

 Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga).

 Menyebabkan saluran-saluran eustachian membengkak dan menjadi terhalangi. Tanpa udara mengalir ke atau dari telinga tengah, tekanan didalam telinga meningkat. Ini dapat menjadi luar biasa tidak nyaman dan dapat terasa seperti balon yang ditiup besar sekali, siap untuk meletus. Infeksi-infeksi telinga tengah juga menyebabkan akumulasi cairan dan produksi nanah didalam telinga tengah. Ini dapat membatasi kemampuan dari getaran-getaran suara untuk berpergian dari selaput gendang telinga ke telinga dalam, menyebabkan kehilangan pendengaran sementara.

 Sebagai tambahan, gendang telinga dapat berubah pink atau merah, dan penumpukan cairan dan nanah yang dihaslkan didalam telinga tengah dapat menekan gendang telinga, menyebabkannya meregang secara ketat atau menonjol.

 Akibat

Dapat menyebabkan tuli konduktif.

 Cara Pencegahan

Pengobatan infeksi telinga akut secara tuntas bisa mengurangi resiko terjadinya infeksi telinga kronis.

 Cara Pengobatan

Pada serangan otitis media kronis, dokter akan membersihkan saluran telinga dan telinga tengah dengan menggunakan penghisap dan kapas kering. Kemudian ke dalam telinga tengah dimasukkan cairan asam asetat dan hydrocortisone.

5. Tonsillar Celluitis

 Penyebab

Infeksi bakteri pada jaringan di sekitar amandel; tonsillar abscess adalah penumpukan nanah di sekitar daerah amandel.

 Gejala

Dengan tonsillar cellulites atau abscess, menelan menyebabkan rasa sakit berat, seseorang merasa sakit, mengalami demam, dan bisa memiringkan kepala ke depan sebelah abscess untuk membantu menghilangkan rasa sakit. Kejang pada otot pengunyah membuat mulut sulit terbuka (trismus). Cellulitis menghasilkan kemerahan yang umum dan mengunyah diatas amandel dan pada langit-langit lunak. Abscess mendorong amandel ke depan, dan uvula (kecil, proyeksi kecil yang menggantung ke bawah pada belakang tenggorokan) ditelan dan bisa didorong ke sebelah berlawanan dengan abses.

 Akibat

Kadangkala, bakteri, biasanya streptococci, yang menginfeksi tenggorokan bisa menyebar ke dalam jaringan yang mengelilinginya. Keadaan ini disebut cellulitis. Jika bakteri berkembang tidak terkendali, penumpukan nanah (abscess) bisa terbentuk. Abscess bisa terbentuk kemudian menuju amandel (peritonsillar) atau di sebelah tenggorokan (parapharyngeal). Abscesses terjadi pada anak tetapi lebih sering terjadi pada orang dewasa muda.

 Cara Pencegahan

-

 Cara Pengobatan

Antibiotik, seperti penisilin atau clindamycin, diberikan secara infus. Jika tidak terdapat abscess, antibiotik biasanya mulai membersihkan infeksi dalam 24 sampai 48 jam. Jika abscess ada, seorang dokter harus memasukkan sebuah jarum ke dalamnya atau memotong ke dalamnya untuk mengeluarkan nanah. Daerah tersebut pertama kali dimatirasakan dengan semprotan anestesi atau suntikan. Pengobatan dengan antibiotik dilanjutkan melalui mulut.

6. Otitis Externa

 Penyebab

Proses peradangan dan infeksi pada EAC (External Auditori Canal). Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sering ditemukan pada infeksi ini. Bakteri yang lebih jarang yang diisoloasi termasuk spesies Proteus, Staphylococcus epidermidis, diphtheroids, dan Escherichia coli.

 Gejala

Gejala otitis eksterna dapat beragam, tergantung dari stadium dan perluasan penyakit. Diagnosis klinis ditegakkan dengan adanya keberadaan otalgia, otorrhea, rasa penuh, pruritus, nyeri pada palpasi, dan beragam derajat oklusi pada EAC. Pasien juga dapat datang dengan penurunan pendengaran yang terjadi akibat oklusi pada EAC karena edema dan debris. Tanda otitis eksterna termasuk nyeri pada penyentuhan pinna; adanya eritema, edema, otorrhea, pembentukan krusta pada EAC; dan pada keadaan yang lebih berat, limfadenopati pada nodus limfe periauricular dan servikal anterior. Perubahan kulit akibat selulitis dapat pula muncul. Pada keadaan kronis, kulit EAC dapat menebal. Kultur dapat bermanfaat untuk kasus infeksi berulang untuk menetukan penanganan yang tepat.

 Akibat

Pada stadium preinflamasi, telinga terpapar dengan faktor predisposisi, termasuk panas, kelembaban, luka (maserasi), absennya serumen, dan pH yang basa. Hal ini dapat menyebabkan edema pada stratum korneum dan oklusi pada unit apopilosebaseus. Pada stadium inflamasi, terjadi pertumbuhan bakteri, disertai dengan edema progresif dan nyeri yang semakin berat. Resolusi yang tidak sempurna atau inflamasi persisten selama lebih dari 3 bulan dikategorikan sebagai stadium inflamasi kronik.

 Cara Pencegahan

 Jangan masukkan barang apa saja kedalam saluran telinga. Apa saja, termasuk jari-jari dan sumbu kapas yang dimasukkan kedalam telinga dapat melukai jaringan yang melapisi saluran dan menyebabkan suatu infeksi telinga.

 Ambil tindakan pencegahan yang memadai sebelum dan sesudah berenang. Beberapa orang mungkin dihimbau menggunakan penyumbat-penyumbat telinga ketika berenang atau mandi untuk memelihara saluran telinga tetap kering. Keringkan telinga-telinga dengan handuk atau hair dryer sesudah berenang dapat juga menurunkan risiko infeksi-infeksi telinga. Dokter-dokter kadangkala menyarankan penggunaan tetes telinga khusus sesudah berenang.

 Berikan asi (air susu ibu) pada bayi-bayi. Air susu ibu menyediakan antibodi-antibodi yang membantu membuat anak-anak kurang peka terhadap infeksi-infeksi, termasuk infeksi-infeksi telinga.

 Monitor penggunaan dot pada bayi-bayi. Bayi-bayi (terutama yang berumur antara 6 dan 12 bulan) yang menggunakan dot-dot mempunyai risiko yang lebih tinggi mengembangkan infeksi-infeksi telinga. Bagaimanapun, pada bayi-bayi muda, penggunaan dot dapat membantu mengurangi risiko sindrom kematian mendadak bayi/sudden infant death syndrome (SIDS). Menghisap jempol tidak tampak meningkatkan risiko infeksi telinga.

 Sewaktu menyusu dengan botol, pegang anak-anak pada posisi duduk yang tegak. Tiduran waktu minum mempromosikan infeksi karena cairan dapat berjalan naik ke tabung-tabung eustachio (eustachian tubes), meningkatkan risiko infeksi.

 Cara Pengobatan

Penanganan otitis eksterna termasuk debridement atraumatik pada EAC yang teliti dengan bantuan mikroskop. Untuk analgesia dapat diberikan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), opioids, atau preparat steroid topikal. Setelah pembersihan selesai, preparat tetes telinga yang bersifat antiseptis, mengasamkan, atau antibiotic (atau kombinasi dari ketiga sifat tersebut) sebaiknya diberikan. Jika derajat stenosis kanal berat, sebuah sumbu diletakkan secara hati-hati untuk menyalurkan tetesan pada bagian medial dari kanal.

Preparat antiseptic yang tersedia, termasuk asam acetic dan boric, ichthammol, phenol, aluminum acetate, gen¬tian violet, thymol, thimerosal (mis, Merthiolate), cresylate, dan alkohol. Preparat antibiotic yang dapat digunakan termasuk ofloxacin, ciprofloxacin, colistin, polymyxin B, neomycin, chloramphenicol, gentamicin, dan tobramycin. Polymyxin B dan neomycin biasanya digunakan bersamaan untuk penanganan infeksi akibat S aureus dan P aeruginosa. Ofloxacin dan ciprofloxacin merupakan antibiotic tunggal dengan spectrum yang sangat luas untuk hampir semua bakteri pathogen yang menyebabkan otitis eksterna. Preparat steroid dapat membantu mengurangi edema dan otalgia. Antibiotik sistemik diindikasikan untuk infeksi yang menyebar melewati EAC. Untuk otitis eksterna kronis, kanalplasty dapat diindikasikan untuk penebalan kulit yang menyebabkan obstruksi kanal. Pasien diminta untuk menghindari manipulasi EAC atau paparan air jika mereka memiliki riwayat otitis eksterna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s