Lisan

Beberapa tahun lalu, yang rutin dilakukan tahunan KIR pada adik-adik kelas anggota barunya, adalah mengajarkan kemampuan berkomunikasi secara lisan. Yak, kenapa lisan? Menurut Kak Rafli, dari sinilah bisa diukur seberapa mampu kamu mempengaruhi orang-orang. Dari konten yang kamu angkat, apakah berbelit-belit. Dari struktur kebahasaan, apakah sekuensial atau lebih banyak bergumam dulu. Karena, pendengar yang baik lah kelak yang akan menjadi pembicara yang baik. Dari sini, Kak Rafli membuat semacam tes kecil untuk mengukur tingkat kepercayaan diri kami dengan menyuruh kami berbicara selama 5 menit, singkat-padat-jelas, tidak lebih dan tidak kurang. Hal ini pulalah yang melatih kami, saya, untuk lebih menjadi pendengar yang baik.

Waktu berjalan. Kak Rafli sudah menempuh studi sesuai bidangnya di Universitas Indonesia, sementara aku melanjutkan studi teknik. Jangan dikira sebuah keilmuan teknik tidak memerlukan kemampuan berkomunikasi. Inilah yang akan menyeimbangkan kami. Disinilah, dimulai dari keinginanku untuk melatih soft skill-ku, aku bertemu banyak orang hebat, baik yang sedang mengikuti kegiatan yang sama denganku, atau bahkan teman-teman dari mereka. Atau bahkan kamu, yang hanya bisa kukagumi dalam hati. Jangan hanya karena karena sebuah profesi keahlian untuk membatasi lingkup ilmu pengetahuan, ilmu sosial, ilmu komunikasi, atau apapun namanya yang ingin dan perlu kalian miliki.

The one who still need to study a lot of thing,
-S

Iklan
By safara23 Posted in Teks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s